Minggu, 21 Juli 2013

Bersihkan Negeri Ini Dari MIRAS



Allah SWT berfirman : 
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al Maidah 90).

Dalam Tafsir Jalalain diterangkan bahwa “al khamr” adalah “al muskir”, yang memabukkan, yakni yang menutupi akal.   Dalam Tafsir Ibnu Katsir dikutip dari kita Sahih Bukhari Muslim dari Khalifah Umar bin Al Khaththab beliau berkhutbah: Wahai manusia sungguh telah diharamkan khamr dan khamr itu ada lima, dari anggur, korma, madu, gandum, dan sorghum. Dan khamr itu apa saja yang menutupi akal. Ibnu Katsir juga mengutip hadits dari Imam Ahmad bahwa ada orang yang menghadiahkan khamr kepada beliau saw.  Beliau menolaknya seraya berkata: Apakah engkau belum tahu kalau khamr sudah diharamkan?  Lalu orang itu menyuruh anaknya menjualnya.  Lalu Rasulullah saw. berkata: “Sesungguhnya Allah yang mengharamkan khamr juga mengharamkan menjualnya”.

Khamr yang ada hari ini beredar di pasaran adalah minuman keras (miras) yang merupakan minuman beralkohol : 
  • berkadar rendah, misalnya bir dan soda alkohol (1% - 10% alkohol), 
  • sedang seperti martini dan anggur (10% - 20% alkohol),
  • miras berkadar tinggi seperti whisky dan brandy (20% - 50% alkohol).  
 Kenapa khamr atau miras bisa membuat peminumnya mabuk dan menutupi akalnya?
Sebab Alkohol yang dikandungnya adalah zat psikoatif yang bersifat adiktif. Zat psikoatif adalah golongan zat yang bekerja secara selektif, terutama pada otak, yang dapat menimbulkan perubahan pada perilaku, emosi, kognitif, persepsi, dan kesadaran seseorang. Sedangkan adiksi atau adiktif adalah suatu keadaan kecanduan atau ketergantungan terhadap jenis zat tertentu. Seseorang yang menggunakan alkohol mempunyai rentang respon yang tidak stabil dari kondisi yang ringan sampai berat.
Alkohol juga merupakan zat penekan susuan syaraf pusat meskipun dalam jumlah kecil mungkin mempunyai efek stimulasi ringan. Bahan psikoaktif yang terdapat dalam alkohol adalah etil alkohol yang diperoleh dari proses fermentasi madu, gula sari buah atau umbi umbian.

Bahaya Miras

Bahaya miras beralkohol kepada tubuh (internal effect)

Jangka Pendek
     Mulut akan terasa kering;
     Pupil mata membesar;
     Jantung berdegup lebih kencang;
     Timbul rasa mual;
     Pada awalnya timbul kesulitan bernafas (untuk itu diperlukan sedikit udara segar);
     Selebihnya akan timbul perasaan seolah-olah kita menjadi hebat dalam segala hal;
     Segala perasaan malu menjadi hilang;
     Kepala terasa kosong, rileks dan "asyik/fly";
     Dalam waktu 4 sampai 6 jam setelah itu kita akan merasa sangat lelah dan tertekan;

Jangka Panjang

Pemabuk atau pengguna alkohol dalam jangka panjang dapat terancam masalah kesehatan yang serius seperti radang usus, penyakit liver, dan kerusakan otak.
Efek alkohol berdasarkan kuantitas pemakaian, bila diminum dalam dosis kecil, akan menimbulkan perasaan relax, cepat timbul rasa senang, rasa sedih dan kemarahan.  Dalam jumlah banyak, akan muncul efek merasa lebih bebas lagi mengekspresikan diri, tanpa ada perasaan terhambat, menjadi lebih emosional (sedih, senang, marah secara berlebihan ).   Gangguan fungsi fisik motorik seperti cara berbicara menjadi cadel; Pandangan menjadi kabur; Sempoyongan; Inkoordinasi motorik; Tidak sadarkan diri; Kemampuan mental mengalami hambatan; Gangguan untuk memusatkan perhatian; Daya ingat terganggu.

Catatan Korban Miras

Data World Health Organization (WHO) dan Kepolisian mengenai angka korban miras dari tahun ke tahun adalah sebagai berikut :
  1. Tahun 1998 di Indonesia tercatat lebih dari 350.000 orang meninggal karena penyakit khronis akibat konsumsi alkohol.
  2. Tahun 1999 - 2000, 58% angka kriminalitas terjadi ditengarai akibat pengaruh minuman keras.
  3. Pada tahun 2000 di Indonesia terdapat lebih dari 13.000 pasien penderita penyakit terkait alkohol.
  4. Tahun 2001 tercatat 39 kasus kematian remaja karena Hepatitis B yang terkait erat dengan konsumsi alkohol (alcoholic cirrhosis, alcoholic cancer, chronic pancreas inflamation, and heart diseases) terjadi di Bali.
  5. Tahun 2001 terdapat 50% dari total 65 kasus keracunan alkohol meninggal di Manado dan Minahasa.
  6. Tahun 2008 tercatat lebih dari 40 kematian akibat keracunan alkohol (intoxicaty). Di Surabaya 9 orang tewas setelah mengkonsumsi miras, 11 orang meninggal di Indramayu Jawa Barat, 14 orang meninggal di Merauke karena mengkonsumsi minuman keras jenis sopi yang dicampur infus dan minyak babi, sementara belasan korban tewas akibat miras lainnya tersebar di beberapa daerah seperti Pasuruan Jawa Timur, Deli Serdang, dan Jaya Pura.
  7. Tahun 2010
  • 20 korban tewas di Cianjur akibat menenggak miras.
  • Mei tahun 2010, 17 nyawa pemuda Cirebon melayang setelah meminum miras beralkohol murni.
  • Agustus 2010, 13 orang meninggal dunia setelah menenggak miras di toko jamu selang beberapa jam setelah mereka minum.  Dari hasil uji lab, minuman ginseng tersebut mengandung, pasta whisky, asem jawa, intisari, dan alkohol 70 persen.
  • Juni 2010  9 warga Semarang tewas akibat menenggak miras. Di beberapa bagian tubuhnya ditemukan lebam dan membiru.
  • 11 orang warga di Jakarta Selatan tewas setelah menenggak miras oplosan.
  • Di Bandung 2 orang meregang nyawa akibat kasus yang sama
  • Di Malang 3 orang tewas, 10 orang kritis.
  • Kemudian kematian 3 orang teknisi pesawat Shukoi di Makasar.
  • 63 warga Jawa Tengah tewas akibat miras.
  • Di Jatisampurna Bekasi 8 orang meninggal dunia karena keracunan miras.
  • 5 orang tewas dan tiga lainnya kritis setelah pesta miras di sebuah acara pernikahan warga di Dusun Sumberasri, Desa Tumpak Oyot, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar.
  • 5 orang warga RT 08, Kelurahan Grogol, Kecamatan Grogol Jakarta Barat dilaporkan tewas setelah menenggak miras di bawah kolong jembatan Grogol.
Bersihkan NEGERI TERCINTA ini dari Miras

Dengan data-data ilmiah bahaya miras yang jelas-jelas membahayakan kehidupan masyarakat dan kelangsungan generasi di atas, sampailah kita pada kesimpulan bahwa miras harus dibersihkan secara tuntas di seluruh wilayah Indonesia ini bila bangsa ini ingin mencapai tujuan mulia kemerdekaannya. Caranya adalah dengan mendorong seluruh pemerintahan dan DPRD kota dan kabupaten di seluruh wilayah NKRI untuk segera membuat dan mengesahkan perda anti miras dan mendorong DPR RI untuk segera menuntaskan RUU Anti Miras dan perlu dibuat Badan Anti Miras Nasional (BAMN). Guru Besar FKUI Prof. Dr. Dadang Hawari mengatakan narkotika yang Cuma disebut di hadits Nabi saw. saja diperangi serius sampai membentuk BNN masa miras yang jelas dilarang Al Quran malah dibiarin. Ayo kita lebih serius basmi miras.
Maha benar Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa yang telah berfirman : 

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (QS. Al Maidah 91).

Baarakallahu lii walakum

Ramadhan Sebagai Pembersih Diri



Alhamdulillah tidak terasa kita sudah berada di bulan Ramadhan lagi. Dimana bulan yang penuh berkah ini Allah menebarkan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka bagi hamba-hambaNya dan melipatgandakan pahala setiap amal yang dikerjakan. Akan tetapi , apakah semua keberkahan, kemuliaan dan limpahan pahala yang berlipat akan datang begitu saja pada setiap insan?

Bulan ramadhan adalah bulan pembersihan diri yang mana kemuliaan, keberkahan dan ampunan baru akan didapat manakala perintah dan larangan Allah SWT dipatuhi. Merugilah seorang muslim yang menjalankan saum ramadhan dengan hanya sekedar menahan lapar dan haus, akan tetapi tidak membersihkan dirinya dari segala dosa dan kemaksiatan.

Dengan ramadhan ini, Allah tidak saja menginginkan seorang muslim membersihkan dirinya dari segala kemaksiatan pribadi, tapi menghendaki setiap muslim pun bisa melepaskan diri dari sistem kehidupan yang penuh dengan kemungkaran. Seperti yang kita lihat kerusakan masyarakat terjadi di semua sektor kehidupan. Pergaulan pria dan wanita semakin bebas, sistem ekonomi kapitalis dan liberalis, pelegalan produksi dan peredaran minuman keras dll.

Sistem kapitalisme merusak nuansa ibadah ramadhan, menayangkan acara-acara ramadhan yang tidak ada hubungannya dengan ibadah, bahkan para ustadz-ustadz juga ikut terseret dalam arus entertainment yang menodai dakwah dan ibadah ramadhan.

Apakah semua ini akan kita abaikan? 
Akan kita biarkan kemaksiatan terus merajalela?

Pangkal dari semua kemungkaran yang kini terjadi adalah karena kemungkaran terbesar, yaitu mengabaikan pernerapan nilai-nilai  Islam. Penerapan selain Islam telah merusak kehidupan umat, hingga ibadah pun turut dirusaknya.

Jadikanlah ibadah puasa ramadhan sebagai sarana untuk membersihkan diri dari segala kemungkaran dan membersihkan sistem kotor ini.

Jangan Pernah Berhenti Perbaharui Keimanan Kita

kita sering kali mencari makna bahagia dan dalam kehidupan ini ..
setiap insan ingin mendambakan bahagia ...
setiap orang ingin beroleh bahagia ...
tapi bagaimana cara untuk mendapatkannya .. 
orang senantiasa meraba-raba tak kunjung menemukannya .. 
untuk banyak orang, bahagia hanyalah semacam impian belaka, suatu yang tak terjangkau oleh manusia .. 
dari masa ke masa orang berbicara soal bahagia ...
tapi kenyataan yang ada, sungguh amat berbeda .. 
dunia telah berwarna derita .. 
melarat telah menyemai di mana-mana ...
Lalu kita bertanya: “kenapa?”
Kenyataan yang ada, “melarat, derita, sengsara, kehancuran”, membuat insan dunia merasa resah, gelisah, takut dan ngeri. Berjalan pun enggan, takut. Bermimpi pun enggan, tak berharga. Maka Nampak jelas di manakah letak sejatinya insan yang benar.

Allah Swt telah berfirman :

Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah (QS. Yunus: 62)

Sungguh beruntunglah orang-orang beriman dan bertaqwa. Pada dirinya mengalir ketaatan kepada aturan-aturan Allah. Seluruh anggota tubuhnya berjalan atas kehendak Allah. Pada dirinya berbekas kebenaran dan memancarkan nur illahi. Sedangkan orang yang tidak beriman dan bertaqwa. Hatinya kosong dari nur illahi. Dia jauh dari bimbingan Allah. Dia terlepas dari kendali Allah. Dia selalu takut akan datangnya bahaya-bahaya dari luar dirinya. Baik itu manusia ataupun makhluk lain. Sehingga terkadang, ketika kesempurnaan telah berada pada dirinya, jiwanya merana tersiksa, penuh derita. Meski bahagia yang diidam-diamkannya, namun sengsara menimpanya.

Orang yang tidak beriman dan bertaqwa mulanya mencari kebahagiaan dengan melepaskan diri dari aturan-aturan yang telah Allah terapkan. Maka, sejatinya ia akan mendapatkan sebuah kenyataan bahagia baginya jauh dari kenyataan. Baginya kebahagiaan hanyalah isapan belaka.

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.  (QS. Thoha: 124)

Semestinya, insan menyadari arti hidup dan kehidupan sebenarnya. Kebahagiaan yang besar adalah ketika keimanan telah merangkai dan menyemai dalam diri kita dan aktivitas kehidupan kita. Maka Bahagia menjadi jaminan mutlak dari Zat Yang Memiliki Kebahagiaan, Allah Azza Wa Jalla.

Jangan pernah berhenti untuk memperbaharui keimanan kita. Dan semoga Allah memberi gelar untuk insan-insan ini dengan gelar orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Aamiin.

MALAM DITURUNKANNYA AL-QURAN



Allah SWT berfirman : 
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al Baqarah 185).


Tafsir ayat :

Dalam Tafsir Jalalain diterangkan bahwa hari-hari yang dimaksud dalam ayat 185 adalah bulan Ramadhan dimana di dalamnya diturunkan Al Quran dari Lauhul mahfuzh ke langit dunia pada malam lailatul Qadar. Al Quran diturunkan sebagai hudan, petunjuk dari kesesatan, bagi manusia dan penjelasan ayat-ayat secara jelas dari al Huda. Yakni dengan apa yang ditunjukkan kepada kebenaran (al haqq) berupa hukum-hukum. Dan juga sebagai pembeda (al furqan).

Jumat, 23 November 2012

Masa Kecil Muhammad (SAW) yang Menantang


Muhammad SAW telah menjadi yatim piatu sejak usia 6 tahun. Sepeninggal ibunya ia dirawat kakeknya, Abdul Mutholib, yang sangat menyayangi cucunya itu.
Abdul Mutholib memiliki kebiasaan duduk seharian di dekat Ka’bah di atas sebuah batu berlapis karpet. Tidak seorang pun berani duduk di tempatnya termasuk putra-putranya yang memilih duduk di sekeliling alas tersebut.
Suatu hari Muhammad kecil melompat ke alas karpet itu lalu duduk diatasnya. Paman-pamannya segera mengambil dan menurunkan Muhammad. Namun Abdul Mutholib memerintahkan mereka membiarkan Muhammad duduk di atas karpetnya sambil mengelusnya. Abdul Mutholib senang melihat Muhammad kecil tertawa riang bersenda gurau bersama pamannya, Zubair.
Namun tidak lama kemudian Abdul Mutholib wafat. Sebelum wafat ia memanggil 10 putranya dan berwasiat agar memelihara, merawat serta mendidik Muhammad. Abdul Mutholib  menunjuk Abu Tholib, satu-satunya saudara kandung ayah Muhammad, Abdulloh.
Dibanding putra-putra Abdul Mutholib yang kaya seperti Abu Lahab, Abu Tholib hidup dalam kemiskinan. Pendapatan Abu Tholib dari dagang hampir tidak mencukupi kebutuhan anggota keluarganya yang cukup banyak. Sehingga anak-anaknya yang masih kecil terpaksa bekerja begitupun Muhammad.
Ia menggembala kambing, mencari rumput menjadi buruh kasar pengangkut batu. Pada usia 12 tahun untuk pertama kalinya Muhammad SAW ikut Abu Tholib berdagang ke Syam.
Dapat dibayangkan di usia masih kanak-kanak Muhammad SAW sudah ditempa berbagai tantangan hidup termasuk berdagang ke tempat yang sangat jauh dari Mekah di semenanjung Arab ke Syam yang meliputi wilayah Syriadan sekitarnya.
“MUHAMMAD THE MESSENGER” -Abdurrahman Asy-Syarqawi

Jumat, 16 November 2012

Perjalanan Yang Indah



Sewaktu masih sakit, sebelum meninggal, Abu Hurairah, sahabat Nabi yang mulia ini, sempat menangis. Air matanya meleleh, membasahi janggutnya. Kepadanya ditanyakan, mengapa ia menangis? “Aku tak menangis karena dunia, tetapi karena jauhnya perjalanan, sedikitnya perbekalan, dan aku tak tahu ke mana perjalananku ini akan berakhir; ke surga atau neraka?”
Abu Hurairah berdoa, “Ya Allah sesungguhnya aku amat mencintai pertemuan dengan-Mu. Semoga Eng kau juga mencintai pertemuan denganku. Sekiranya Engkau berkenan, kumohon pertemuan ini bisa segera berlangsung.”
Tak lama berselang, Abu Hurairah pun pergi, menghadap Allah, meninggalkan alam yang fana ini. (Ibn Rajab, Jami` al-`Ulum wa al-Hikam).
Abu Hurairah memang istimewa. Ia bersama Nabi SAW hampir sepanjang hayatnya. Karena tidak terlalu sibuk berbisnis, ia banyak belajar dan menimba ilmu dari Nabi, melebihi sahabat lainnya. Tak heran bila ia tergolong sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis.
Tentu, tak ada keberuntungan melebihi orang yang memperoleh petunjuk Tuhan atau pencerahan hati (insyirah al-shadr). Diakui, tak seorang pun mengetahui, siapa yang telah mendapat pencerahan itu. Dalam hadis sahih, Nabi SAW hanya menyebut tiga hal sebagai indikatornya.
Pertama, menjauhkan diri dari tipu daya dunia (al-jafi fi dar al-ghurur). Orang mukmin tidak boleh silau memandang dunia. Dunia, seperti di katakan Ghazali, hanyalah kendaraan. Jangan sampai karena indahnya aksesori kendaraan, tujuan perjalanan (akhirat) menjadi terlupakan.
Kedua, memiliki orientasi ketuhanan (al-inabah ila dar al-khulud). Karena tertipu daya tarik dunia, banyak orang mengalami disorientasi, yaitu gangguan kejiwaan lantaran mempertuhankan harta dan takhta. Akibatnya, tak sedikit dari mereka kehilangan keseimbangan (disharmoni), bahkan kehilangan harapan (hopeless).
Ketiga, memperbanyak bekal sebelum kematian tiba (al-isti`dad qabl al-ma`ad). Bekal itu tak lain adalah iman dan amal saleh. Inilah bekal paling baik dalam perjalanan ini (QS al- Baqarah [2]: 197). Perjalanan manusia di dunia sangat pendek, seperti musafir yang istirahat (ngiyup) sebentar di bawah pohon karena kelelahan untuk selanjutnya meneruskan perjalanan.
Apa yang harus dilakukan dalam kesempatan yang pendek ini? Menurut Hossein Nasr, manusia harus berkebun di taman kebenaran (the garden of truth). Ada tiga elemen dalam proyek perkebunan ini, yaitu Allah, manusia, dan kebajikan (virtues). Proyek ini akan mentransendenkan manusia dari penghambaan kepada dunia (mundane concern), kepentingan diri sendiri (selfish desires), dan rasa takut (fears).
Seterusnya, perkebunan ini akan membuat manusia memperoleh hikmah (wisdom), kedamaian, dan hubungan yang makin erat dengan Tuhan, Sang Pemilik kebun, yang akan melimpahkan kebaikan, tak hanya bagi tukang kebun, tapi bagi orang lain.
Abu Hurairah telah melakukan dan memberi contoh dalam soal ini. Kita semua patut meneladaninya. Dengan cara ini, perjalanan panjang menuju akhirat tidak akan berat, malah terasa indah dan menyenangkan. Wallahu a`lam.

copas : hikmah republika tulisan : A Ilyas Ismail /12/11/03/

Senin, 12 November 2012

KOMSUMTIVISME UMROH

Medio April ini, Allah memberikan kesempatan kepada kami untuk menengok putra semata wayang kami yang sejak tahun lalu belajar di Universitas Islam Madinah. Kesempatan ini sekaligus kami manfaatkan untuk mengamati perkembangan umrah. Dibandingkan dengan era 1970-an sampai 1980-an, antusiasme umat untuk menjalankan umrah luar biasa. Dulu, kepadatan jamaah di Masjidil Haram yang mirip musim haji hanya pada malam 27 Ramadhan. Kini, kepadatan semacam itu dapat dilihat setiap malam.

Apakah yang mendorong mereka jor-joran menjalankan umrah?
Ada beberapa alasan. Pertama, lamanya masa tunggu untuk beribadah haji menjadi faktor yang menonjol terhadap fenomena umrah masa kini.
Kedua, kekurangpuasan ketika menjalankan ibadah haji sehingga mereka mengulanginya dalam bentuk umrah.
Ketiga, orang tua memberikan hadiah umrah bagi anak-anaknya yang berprestasi lulus ujian.
Keempat, sebagai simbol gengsi baru sebab dengan menjalankan umrah, berarti di mata masyarakat yang bersangkutan memiliki nilai plus. Bahkan, konon ada paket pernikahan di sisi Ka’bah.
Kelima, Makkah dengan fasilitasnya yang mutakhir tampaknya juga memengaruhi umat untuk berumrah.
Ibadah haji dan umrah diwajibkan kepada umat Islam pada tahun 6 H. Pada tahun itu pula Nabi SAW bermaksud untuk umrah, tetapi gagal karena Makkah masih dikuasai kaum musyrikin.
Sejak Makkah dibebaskan 8 H sampai beliau wafat tahun 11 H, Nabi SAW punya kesempatan beribadah haji tiga kali, tetapi beliau melakukannya hanya sekali.
Beliau juga punya kesempatan beribadah umrah ratusan bahkan ribuan kali, namun beliau beribadah umrah sunah hanya dua kali dan tidak pernah dilakukan pada bulan Ramadhan.
Sekiranya Nabi SAW tidak punya uang untuk berhaji tiap tahun dan berumrah tiap bulan, tentu para sahabat yang kaya akan membiayai Nabi SAW untuk hal itu.
Tetapi, Nabi SAW bukan tipologi orang yang suka minta bantuan.
Setelah Nabi SAW tinggal di Madinah, banyak terjadi peperangan. Maka, uang Nabi SAW dipakai untuk membiayai jihad fi sabilillah itu. Banyak sahabat yang gugur sebagai syuhada dalam peperangan. Akibatnya, banyak janda, orang miskin, dan anak yatim.
Nabi SAW mencontohkan dan memerintahkan umatnya untuk menyantuni orang-orang tersebut.
Di Madinah juga, ada ratusan mahasiswa miskin yang belajar pada beliau. Nabi SAW mencontohkan dan memerintahkan umatnya untuk menyantuni mereka. Nabi SAW lebih memprioritaskan ibadah sosial daripada ibadah individual apabila dua ibadah itu hukumnya sunah.
Di negeri kita, potret kemiskinan ada di mana-mana. Dalam keadaan seperti itu, apakah Islam membenarkan umatnya jor-joran pergi umrah? Sekiranya berhaji dan berumrah ulang adalah sebuah kebaikan, tentulah Nabi SAW telah melakukannya.
Kini, permasalahannya kembali pada kita, apakah kita dalam beribadah mau mengikuti contoh dari Nabi SAW, ataukah kita mengikuti selera alias hawa nafsu kita sendiri. Iblis sangat cerdik, maksiat dibungkusnya dengan ibadah.

Tulisan copy paste dari; “Koran Republika, Selasa 19 April 2011, hikmah oleh Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub”