Minggu, 21 Juli 2013

Jangan Pernah Berhenti Perbaharui Keimanan Kita

kita sering kali mencari makna bahagia dan dalam kehidupan ini ..
setiap insan ingin mendambakan bahagia ...
setiap orang ingin beroleh bahagia ...
tapi bagaimana cara untuk mendapatkannya .. 
orang senantiasa meraba-raba tak kunjung menemukannya .. 
untuk banyak orang, bahagia hanyalah semacam impian belaka, suatu yang tak terjangkau oleh manusia .. 
dari masa ke masa orang berbicara soal bahagia ...
tapi kenyataan yang ada, sungguh amat berbeda .. 
dunia telah berwarna derita .. 
melarat telah menyemai di mana-mana ...
Lalu kita bertanya: “kenapa?”
Kenyataan yang ada, “melarat, derita, sengsara, kehancuran”, membuat insan dunia merasa resah, gelisah, takut dan ngeri. Berjalan pun enggan, takut. Bermimpi pun enggan, tak berharga. Maka Nampak jelas di manakah letak sejatinya insan yang benar.

Allah Swt telah berfirman :

Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah (QS. Yunus: 62)

Sungguh beruntunglah orang-orang beriman dan bertaqwa. Pada dirinya mengalir ketaatan kepada aturan-aturan Allah. Seluruh anggota tubuhnya berjalan atas kehendak Allah. Pada dirinya berbekas kebenaran dan memancarkan nur illahi. Sedangkan orang yang tidak beriman dan bertaqwa. Hatinya kosong dari nur illahi. Dia jauh dari bimbingan Allah. Dia terlepas dari kendali Allah. Dia selalu takut akan datangnya bahaya-bahaya dari luar dirinya. Baik itu manusia ataupun makhluk lain. Sehingga terkadang, ketika kesempurnaan telah berada pada dirinya, jiwanya merana tersiksa, penuh derita. Meski bahagia yang diidam-diamkannya, namun sengsara menimpanya.

Orang yang tidak beriman dan bertaqwa mulanya mencari kebahagiaan dengan melepaskan diri dari aturan-aturan yang telah Allah terapkan. Maka, sejatinya ia akan mendapatkan sebuah kenyataan bahagia baginya jauh dari kenyataan. Baginya kebahagiaan hanyalah isapan belaka.

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.  (QS. Thoha: 124)

Semestinya, insan menyadari arti hidup dan kehidupan sebenarnya. Kebahagiaan yang besar adalah ketika keimanan telah merangkai dan menyemai dalam diri kita dan aktivitas kehidupan kita. Maka Bahagia menjadi jaminan mutlak dari Zat Yang Memiliki Kebahagiaan, Allah Azza Wa Jalla.

Jangan pernah berhenti untuk memperbaharui keimanan kita. Dan semoga Allah memberi gelar untuk insan-insan ini dengan gelar orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar